Abrasi Ancam Pesisir Pantai Majene

Kompas.com - 05/03/2010, 00:55 WIB

MAJENE, KOMPAS.com - Sekitar wilayah pantai Kabupaten Majene,  Sulawesi Barat, terancam abrasi akibat gelombang air laut pasang yang terus menerus menghantam wilayah pesisir itu.
 
Pemantauan di Majene, Kamis (3/3/2010), sepanjang wilayah pantai Kabupaten Majene yang terletak di Kecamatan Tubo, terdiri dari Kelurahan Mosso, Desa Puttada, Pundaum, Desa Onang, terus terancam gelombang air laut pasang.
 
Tampak sepanjang puluhan kilometer wilayah pantai Kabupaten Majene terus dikikis air laut yang juga menghantam beberapa tanggul penahan ombak yang terletak di pesisir pantai sehingga jebol akibat gelombang pasang yang melanda wilayah itu.
        
Abrasi yang terjadi tersebut tampak juga merusak sepadan jalan jalur trans sulawesi yang terletak di sekitar pesisir pantai di wilayah itu, sehingga jalan trans sulawesi di bagian barat Sulawesi tersebut juga menjadi terancam.
       
Begitu juga dengan ratusan permukiman nelayan yang terletak di sekitar wilayah itu juga terancam karena air laut sudah berada di belakang mendekati pemukiman mereka .
 
Warga tampak hanya membangun dengan kayu besar berbentuk pagar yang dijadikan sebagai penahan ombak agar tidak menimpa pemukiman mereka.
 
Hutan bakau yang selama ini dijadikan penahan ombak untuk menahan laju ombak sudah banyak yang tumbang karena populasinya semakin sedikit. "Kalau pemerintah tidak segera membangun tanggul, kami khawatir abrasi akan terus merusak jalan dan mengancam pemukiman penduduk di wilayah ini," kata Irwansayah salah seorang warga.
       
Ia mengatakan, ancaman abrasi di wilayah pesisir Majene tersebut terjadi dan dirasakan mengancam warga semenjak badai esktrem melanda wilayah ini. "Akhir akhir ini ombak cukup tinggi dan begitu keras menghantam pesisir pantai karena badai angin kencang juga sering melanda meski tidak begitu parah, sehingga abrasi yang ditimbulkan cukup mengkhawatirkan," katanya.
 
Menurut dia, jika abrasi terus terjadi dan mengikis wilayah pantai, bukan hanya permukiman warga yang akan terancam tetapi juga akan mengancam jalur Trans Sulawesi.
 
Oleh karena itu, ia meminta pemerintah setempat segera membangun tanggul di jalur trans sulawesi tersebut untuk mengantisipasi ancaman abrasi masuk melanda permukiman penduduk di pesisir pantai.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau